Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara terbuka pasang badan menghadapi gelombang kritik global terkait penetapan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dinilai tidak masuk akal. Dalam sebuah sesi tanya jawab yang berlangsung ketat menjelang upacara pembukaan, pria asal Swiss tersebut menegaskan bahwa seluruh kebijakan komersial ini telah melalui kalkulasi bisnis yang matang.
Dikutip dari Jurnal News, Kamis (11/6/2026), turnamen edisi kali ini dipastikan menjadi yang terbesar dalam sejarah karena mengalami ekspansi masif dengan melibatkan 48 negara peserta dan total 104 pertandingan. Skala kompetisi yang raksasa inilah yang dijadikan landasan oleh komite eksekutif untuk menyesuaikan target pendapatan mutakhir mereka.
Kekecewaan publik sendiri memuncak setelah rincian daftar harga tiket resmi untuk laga final di stadion megah luar kota New York bocor ke permukaan. Untuk kategori reguler di posisi strategis, harga yang dipatok melonjak drastis dari angka awal $8.680 menjadi $10.990, hingga menyentuh $32.970 (sekitar Rp537 juta).
Bahkan, bagi kalangan jetset yang mengincar fasilitas kemewahan di tribun VIP, FIFA tidak ragu membanderol harga hingga $73.200 atau setara dengan lebih dari Rp1,1 miliar per kursi. Menanggapi angka fantastis tersebut, Infantino berdalih bahwa standardisasi tarif ini sudah disesuaikan dengan daya beli masyarakat di wilayah Amerika Utara.
“Jika formula komersial yang kami terapkan ini dianggap sebagai sebuah kesalahan, maka seluruh promotor olahraga besar di Amerika Utara juga melakukan kekeliruan serupa,” ujar Infantino kepada para jurnalis. Otoritas sepak bola tertinggi dunia ini berkilah bahwa tingginya harga resmi sengaja diterapkan sebagai instrumen untuk mematikan ruang gerak para spekulan.
Menurut analisis internal tim ekonomi FIFA, menurunkan harga jual resmi pada pasar sekunder seperti Amerika Serikat justru hanya akan menyuburkan aktivitas pasar gelap. Jika tiket dijual murah, para calo siber di negara tersebut diyakini akan langsung memborongnya secara legal lalu menjualnya kembali dengan keuntungan berkali-kali lipat.
Guna meredam sentimen negatif dari basis penggemar lokal, FIFA akhirnya bersedia membuka slot khusus dengan menyediakan 130.000 lembar tiket kategori murah. Tiket seharga $60 (sekitar Rp980 ribu) ini didistribusikan secara eksklusif melalui federasi nasional untuk diberikan kepada para suporter reguler terdaftar.
Meskipun ada kebijakan kuota murah, rata-rata tarif tiket secara keseluruhan tetap mengalami inflasi yang sangat tajam jika dibandingkan dengan edisi Piala Dunia Qatar empat tahun silam. Sebagai perbandingan historis, harga tiket pertandingan di Qatar terpantau masih berada di kisaran yang lebih logis, yakni antara $69 hingga $1.607 saja.
Infantino bersikeras bahwa nilai rata-rata tiket yang berada di bawah angka $500 masih sangat wajar jika disandingkan dengan industri olahraga populer lain di AS. Ia merujuk pada harga tiket World Series Major League Baseball yang berkisar $350 hingga $400, serta tiket babak wild-card NFL yang rata-rata mencapai $230.
Bahkan, sang presiden mengklaim tarif final sepak bola dunia ini masih jauh lebih murah dibandingkan tiket Super Bowl yang rata-rata menembus $3.300 di pasar sekunder. Kendati argumentasi tersebut dinilai kurang akurat karena membandingkan harga daftar resmi dengan harga jual kembali, Infantino tetap kukuh pada pandangannya.
Imbas dari kebijakan tarif ekstrem ini, kejaksaan agung di empat negara bagian besar termasuk California, New Jersey, New York, dan Texas kini mulai menggelar investigasi resmi. Menghadapi ancaman hukum tersebut, Infantino menyatakan bahwa jajaran manajemen FIFA sangat tenang dan tidak merasa khawatir sedikit pun.
Pihak FIFA mengklaim telah mengonsultasikan seluruh mekanisme penjualan 7 juta tiket ini dengan jaringan pengacara korporasi dan ahli keuangan terbaik di dunia sebelum meluncurkannya ke publik. “Kami sangat menyambut baik setiap investigasi hukum, kami senang untuk membuka semua data, dan kami siap membuktikan kebenaran kasus kami,” tegasnya secara berani.
Insiden Wasit Somalia
Di luar urusan komersial yang pelik, jalannya turnamen ini juga diwarnai insiden diplomatik terkait penolakan visa terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan. Artan, yang mencetak sejarah sebagai pengadil lapangan pertama dari Somalia di Piala Dunia, tertahan di Bandara Internasional Miami karena kendala proses verifikasi imigrasi.
Menanggapi boikot imigrasi tersebut, Infantino menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki kuasa mutlak untuk mendikte kebijakan hukum dan keamanan dari pemerintah berdaulat Amerika Serikat. Ia meminta publik internasional untuk tetap tenang dan menyadari bahwa federasi sepak bola bukanlah penguasa dunia yang berada di atas hukum kepolisian.
Namun, di tengah kebuntuan kasus Somalia, Infantino justru membanggakan keberhasilan proses diplomasi FIFA yang sukses membawa tim nasional Iran ke tanah Amerika. Mengingat hubungan diplomatik kedua negara yang tengah memanas, FIFA berhasil merancang skenario khusus agar timnas Iran memindahkan kamp pelatihan mereka ke Meksiko demi alasan keamanan.
Intervensi Donald Trump
Pria berkepala plontos itu juga menyatakan secara gamblang bahwa proyek raksasa Piala Dunia di tanah Amerika ini mustahil dapat terwujud tanpa adanya intervensi langsung dari Donald Trump. Menurutnya, Trump sejak awal telah memahami potensi dampak ekonomi makro yang luar biasa besar yang dibawa oleh turnamen sepak bola empat tahunan ini.
Melalui kemitraan strategis tersebut, FIFA memproyeksikan target pendapatan total yang sangat fantastis, yakni menyentuh angka 11 miliar dolar AS sepanjang turnamen berjalan. Angka tersebut sebenarnya bisa digelembungkan menjadi 30 miliar dolar AS jika FIFA memilih skema hak siar berbayar penuh di seluruh jaringan televisi dunia.
Namun, opsi kapitalisasi total tersebut sengaja ditolak demi menjaga idealisme agar miliaran penduduk di negara berkembang tetap dapat menikmati pertandingan secara gratis. Di sisi lain, atmosfer konferensi pers kali ini tercatat berjalan jauh lebih tertata dan minim kontroversi dibanding momen pembukaan di Qatar beberapa tahun lalu.
Sebagai penutup yang sarat akan pesan politik, Infantino secara sengaja mengosongkan satu kursi jurnalis di barisan depan ruang konferensi pers tersebut. Tindakan simbolis itu didedikasikan sebagai bentuk protes atas penahanan Christophe Gleizes, seorang jurnalis investigasi asal Prancis yang dijatuhi hukuman penjara di Aljazair.