Inter Milan bergerak cepat mencari penerus Denzel Dumfries setelah wing-back Belanda itu meninggalkan Giuseppe Meazza menuju Real Madrid pada musim panas 2026. Nama Djed Spence kini muncul sebagai kandidat utama, dengan negosiasi bersama Tottenham Hotspur sudah memasuki tahap serius.
Menurut laporan The Guardian, Kamis (13/08/2026) Tottenham bersedia membuka jalan bagi Djed Spence untuk pindah ke Inter dengan nilai sekitar €30 juta atau £25,6 juta. Kesepakatan pribadi diyakini bukan masalah karena pemain berusia 26 tahun tersebut juga tertarik bermain untuk juara Italia.
Namun, pertanyaan terbesar bukan sekadar apakah transfer tersebut akan selesai, melainkan apakah Djed Spence benar-benar mampu menggantikan peran besar Dumfries. Data menunjukkan keduanya mempunyai karakter berbeda meskipun sama-sama dapat dimainkan sebagai wing-back dengan kekuatan utama pada atletisme.
Dumfries meninggalkan standar yang sangat tinggi setelah mencatat 207 pertandingan, 27 gol, dan 28 assist bersama Inter dalam berbagai kompetisi. Bek internasional Belanda tersebut juga memenangkan delapan trofi selama memperkuat Nerazzurri sebelum menandatangani kontrak empat tahun bersama Real Madrid.
Artinya, Djed Spence tidak datang untuk menggantikan pemain biasa karena Dumfries menghasilkan total 55 kontribusi gol sepanjang kariernya bersama Inter. Beban tersebut menjadi tantangan pertama Spence apabila Cristian Chivu benar-benar menjadikannya pilihan utama di sisi kanan musim depan.
Mengapa Inter Milan Memilih Djed Spence?
Inter membutuhkan wing-back yang memiliki kecepatan, stamina, kemampuan membawa bola, dan keberanian menyerang ruang untuk mempertahankan karakter agresif di sisi lapangan. Profil tersebut terdapat pada Djed Spence, yang termasuk salah satu pemain tercepat di Premier League sepanjang musim 2025/2026.
Data resmi Premier League mencatat kecepatan tertinggi Djed Spence mencapai 36,62 kilometer per jam, salah satu catatan terbaik kompetisi tersebut. Angka itu hanya berada di belakang beberapa pemain seperti Jackson Tchatchoua dan Gabriel Martinelli dalam daftar kecepatan tertinggi musim tersebut.
Kemampuan tersebut sangat berguna bagi Inter ketika kehilangan bola karena Spence mempunyai kecepatan untuk melakukan recovery run sebelum lawan mencapai area pertahanan. Sebaliknya, ketika menyerang, akselerasi itu memungkinkan dirinya menyerang ruang kosong di belakang full-back lawan melalui transisi cepat.
Kekuatan Djed Spence juga tidak berhenti pada sprint karena ia cukup nyaman membawa bola sendiri menuju wilayah permainan lawan. Analisis resmi Premier League mencatat ia menghasilkan 1.729,6 meter progressive ball carries, tertinggi di skuad Tottenham pada periode yang dianalisis.
Spence bahkan berada di atas Micky van de Ven yang mencatat 1.589,2 meter serta Xavi Simons dengan 1.476,3 meter dalam parameter tersebut. Data ini menunjukkan kemampuan progresi bola melalui carry dapat menjadi senjata tambahan yang sebelumnya tidak menjadi identitas utama Dumfries.
Djed Spence Lebih Nyaman Membawa Bola
Perbedaan paling menarik antara Djed Spence dan Dumfries terlihat pada cara keduanya membantu tim bergerak dari area sendiri menuju pertahanan lawan. Spence cenderung menerima bola lebih dalam, kemudian menggunakan akselerasi dan dribel untuk melewati tekanan lawan.
Data Premier League lainnya mencatat Spence pernah menghasilkan sekitar 1,9 dribel sukses per 90 menit, termasuk angka tertinggi di antara pemain Tottenham yang dibandingkan. Kemampuan satu lawan satu seperti ini memberikan Chivu alternatif ketika jalur umpan Inter tertutup oleh pressing lawan.
Dumfries memiliki pendekatan berbeda karena kekuatan terbesarnya muncul setelah bola sudah bergerak menuju area penyerangan. Ia sangat agresif melakukan sprint tanpa bola, menyerang tiang jauh, dan memasuki kotak penalti sehingga kerap terlihat seperti penyerang tambahan daripada seorang bek kanan.
Karena itu, mengganti Dumfries dengan Djed Spence bisa mengubah bagaimana serangan Inter dibangun dari sisi kanan. Nerazzurri berpotensi mendapatkan lebih banyak progresi melalui dribel, tetapi kehilangan sebagian ancaman penyelesaian akhir yang selama ini diberikan pemain Belanda tersebut.
Produktivitas Jadi Perbedaan Terbesar
Bagian inilah yang membuat transfer Djed Spence memiliki risiko cukup besar karena statistik ofensifnya belum mendekati produktivitas Dumfries. Dalam Premier League 2025/2026, pemain Inggris tersebut membuat 30 penampilan dan 2.056 menit tanpa mencetak gol maupun memberikan assist.
FotMob memberinya rating rata-rata 6,63 sepanjang musim tersebut, sementara data resmi Premier League mencatat keseluruhan kariernya di kompetisi itu menghasilkan 59 penampilan. Dari jumlah tersebut, Spence hanya membukukan satu gol dan dua assist.
Sebaliknya, Dumfries masih menghasilkan tiga gol dan satu assist dalam 20 pertandingan Serie A 2025/2026, meski hanya bermain sekitar 1.327 menit. Semusim sebelumnya, pemain Belanda tersebut bahkan mencatat tujuh gol dan dua assist di liga Italia.
Perbandingan tersebut memperlihatkan jurang yang cukup jelas dalam urusan output akhir, terutama ketika memasuki kotak penalti lawan. Jika Chivu mengharapkan Spence langsung menghasilkan angka gol seperti Dumfries, transfer ini berpotensi menghadirkan masalah pada musim pertamanya.
Dumfries Sudah Teruji di Pertandingan Besar
Dumfries juga memiliki kemampuan menghasilkan gol dan assist ketika menghadapi pertandingan berlevel tinggi, bukan hanya melawan klub papan bawah Serie A. Inter pernah mencatat ia mempunyai sembilan kontribusi gol Liga Champions berupa empat gol dan lima assist pada Oktober 2025.
Pada periode yang sama, Dumfries sudah mencetak lima gol Liga Champions sejak musim 2022/2023, salah satu catatan terbaik pemain bertahan. Hanya Nuno Mendes yang disebut mempunyai jumlah gol lebih banyak di kompetisi tersebut dalam periode perbandingan yang digunakan Inter.
Karakter tersebut sulit digantikan karena Dumfries mempunyai naluri menentukan kapan harus meninggalkan posisi dan masuk ke area penalti. Kemampuan membaca ruang seperti seorang penyerang membuat Inter selama beberapa musim mendapatkan sumber gol tambahan tanpa harus mengorbankan satu pemain depan.
Spence belum menunjukkan produktivitas serupa, sehingga Chivu kemungkinan harus mengubah mekanisme penyerangan kanan daripada memaksanya meniru Dumfries. Inter bisa meminta gelandang atau penyerang kanan mengisi kotak penalti sementara Spence berfungsi sebagai pembawa bola sekaligus pemberi lebar.
Djed Spence Lebih Fleksibel
Ada satu keuntungan besar yang membuat Djed Spence sangat menarik bagi Inter, yakni kemampuannya bermain di beberapa posisi pada kedua sisi lapangan. FotMob mencatat posisi utamanya dapat berada sebagai left-back, tetapi ia juga mampu menjadi right-back, left wing-back, bahkan left midfielder.
Nilai transfer Djed Spence di platform tersebut tercatat sekitar €31,1 juta, hampir sama dengan nilai transaksi yang sedang dibicarakan Inter dan Tottenham. Kontraknya di London masih berlangsung sampai Juni 2029 setelah sebelumnya menandatangani perpanjangan empat tahun.
Fleksibilitas itu sudah terlihat bersama tim nasional Inggris karena Djed Spence mendapatkan kesempatan bermain dari kanan maupun kiri. Ia masuk skuad Piala Dunia 2026 dan ikut membantu Inggris mencapai semifinal, termasuk mendapatkan menit sebagai bek kiri menghadapi Norwegia.
The Guardian mencatat Spence bahkan menjadi starter dalam empat pertandingan Inggris di Piala Dunia, termasuk semifinal menghadapi Argentina. Pengalaman tersebut memperkuat statusnya sebagai pemain yang tidak lagi sekadar prospek, melainkan bek internasional yang sudah menghadapi tekanan turnamen besar.
Mengapa Tottenham Bersedia Menjual?
Keinginan Tottenham melepas Djed Spence lebih berkaitan dengan kepadatan persaingan daripada kualitas pemain yang dianggap tidak cukup baik. Kedatangan Andy Robertson semakin menambah pilihan Roberto De Zerbi, sementara Destiny Udogie dan Pedro Porro diproyeksikan menjadi full-back utama.
Situasi itu membuat Spence berisiko kehilangan menit bermain meskipun baru memperpanjang kontraknya pada awal musim lalu. Inter menawarkan kesempatan berbeda karena posisi wing-back kanan menjadi kosong setelah Dumfries bergabung dengan Real Madrid.
Tottenham awalnya mengeluarkan sekitar £20 juta ketika membeli Djed Spence dari Middlesbrough pada 2022, sehingga penjualan sekitar £25,6 juta tetap memberikan keuntungan. Bagi Inter, harga €30 juta juga masih cukup logis untuk pemain internasional Inggris berusia 26 tahun.
Bagaimana Kemampuan Bertahan Djed Spence?
Statistik defensif memperlihatkan Djed Spence cukup aktif ketika Tottenham tidak menguasai bola, sebuah aspek penting jika ia dimainkan dalam sistem Chivu. Sepanjang Premier League 2025/2026, ia menghasilkan sekitar 1,88 tekel dan 0,66 intersep per 90 menit.
Spence juga mencatat sekitar 2,23 sapuan per 90 menit dan berada di lapangan ketika Tottenham menghasilkan sembilan clean sheet dari 30 pertandingan liga. Ia hanya dilewati lawan sekitar 0,31 kali per 90 menit berdasarkan data defensif yang tersedia.
Angka tersebut memberikan alasan bagi Inter untuk percaya bahwa kecepatan Spence tidak hanya berguna dalam menyerang. Ia mempunyai atribut recovery dan kemampuan duel yang dapat membantu menutup ruang ketika wing-back bergerak sangat tinggi dalam fase penguasaan bola.
Pengalaman Serie A Bukan Hal Baru
Adaptasi menuju sepak bola Italia juga seharusnya tidak sepenuhnya asing bagi Djed Spence karena ia pernah dipinjamkan Tottenham kepada Genoa pada Januari 2024. Dalam periode tersebut, ia menghasilkan 16 penampilan sebelum kembali ke London pada akhir musim.
Perjalanan karier Spence cukup berliku karena sebelumnya pernah memperkuat Middlesbrough, Nottingham Forest, Rennes, Leeds United, Genoa, kemudian kembali mendapatkan kesempatan bersama Tottenham. Pengalaman berbeda itu membuat pemain Inggris tersebut sudah terbiasa beradaptasi terhadap beragam tuntutan sistem permainan.
Jadi, Inter Milan Untung atau Buntung?
Jika tolok ukurnya adalah mencari Dumfries versi baru, Inter berisiko buntung karena Djed Spence belum mempunyai angka gol dan assist yang mendekati pemain Belanda. Nol gol dan nol assist dalam 30 pertandingan Premier League terakhir merupakan perbedaan yang terlalu besar untuk diabaikan.
Namun, jika tujuan Inter adalah mendapatkan wing-back dengan karakter baru, transfer Djed Spence justru sangat masuk akal. Kecepatan 36,62 km/jam, kemampuan progressive carry, dribel, fleksibilitas kanan-kiri, serta usia empat tahun lebih muda menjadi modal yang sulit diabaikan.
Dumfries meninggalkan Inter pada usia sekitar 30 tahun setelah memberikan 27 gol dan 28 assist, sedangkan Spence memasuki usia 26 tahun dengan ruang perkembangan lebih panjang. Inter pada dasarnya menukar produktivitas dan pengalaman dengan kecepatan, fleksibilitas, serta kemampuan progresi bola.
Karena itu, penilaian akhir transfer ini sangat bergantung pada bagaimana Chivu menggunakan Djed Spence, bukan hanya pada kemampuan pemain tersebut meniru pendahulunya. Meminta Spence menjadi Dumfries kedua kemungkinan keliru karena kekuatan terbesar keduanya muncul dalam fase permainan berbeda.
Inter untung dari perspektif atletisme, usia, progresi bola, fleksibilitas dan potensi taktikal, tetapi berpotensi buntung dalam produktivitas gol serta ancaman di kotak penalti. Tantangan Chivu adalah mengubah perbedaan tersebut menjadi keuntungan, bukan memaksakan peran lama kepada pemain dengan karakter baru.
Untuk harga sekitar €30 juta, Djed Spence tetap merupakan pertaruhan yang cukup rasional mengingat pengalaman Premier League, Serie A, dan Piala Dunia yang sudah dimilikinya. Namun, baru setelah musim berjalan akan terlihat apakah Inter benar-benar menemukan penerus Dumfries atau justru kehilangan salah satu senjata ofensif terbaiknya.