Kasus benda diduga peluru dalam daging MBG yang ditemukan seorang siswa SD di Lampung Utara memasuki babak baru. Polisi tidak hanya memeriksa sekolah dan dapur penyedia makanan, tetapi mulai menelusuri perjalanan 95,85 kilogram daging sapi hingga rekaman CCTV.
Benda kecil dan keras menyerupai peluru senapan angin itu ditemukan siswa kelas V SD Negeri 3 Sindangsari bernama Ardi ketika sedang menyantap menu Makan Bergizi Gratis. Ardi bahkan sempat menggigit sebagian daging sebelum merasa ada bagian yang jauh lebih keras dibanding biasanya.
Dilansir Okezone, Kepala SD Negeri 3 Sindangsari Ida Yulia Mega membenarkan kejadian tersebut dan mengatakan siswanya kemudian membalik potongan daging setelah merasa curiga. Saat itulah terlihat benda asing yang disebut menyerupai peluru dalam kondisi menancap pada makanan.
Ardi mengaku sebagian daging sudah sempat dimakan sebelum benda tersebut terlihat, tetapi ia langsung berhenti setelah mengetahui ada benda keras di dalamnya. Pihak sekolah kemudian mengamankan temuan itu dan menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko apabila benda asing tersebut sampai tertelan.
Peristiwa itu berkembang luas setelah video seorang guru memperlihatkan potongan daging dan benda menyerupai proyektil beredar di media sosial. Namun hingga penyelidikan berlangsung, pihak berwenang belum menyatakan secara definitif bahwa benda tersebut benar-benar merupakan peluru senapan angin.
Deretan Fakta Baru Benda Diduga Peluru dalam Daging MBG
Perkembangan terbaru menunjukkan polisi mulai mengurai seluruh perjalanan makanan, bukan sekadar memeriksa benda yang ditemukan siswa. Penelusuran dilakukan mulai dari asal bahan baku, waktu kedatangan daging, proses pencucian, pengolahan, sampai makanan tersebut dikirim kepada penerima.
Kasat Reskrim Polres Lampung Utara AKP Ivan Roland Cristofel mengatakan penyidik masih mengumpulkan bahan keterangan untuk mengetahui secara pasti bagaimana benda tersebut bisa berada di makanan. Polisi telah mendatangi SD Negeri 3 Sindang Sari dan dapur SPPG Sindang Sari untuk melakukan pemeriksaan.
Penyelidikan itu menjadi penting karena kasus benda diduga peluru dalam daging MBG belum mempunyai jawaban mengenai titik masuk benda asing tersebut. Polisi karena itu belum mengarahkan kesimpulan kepada supplier, dapur SPPG, ataupun pihak lain sebelum seluruh keterangan diperiksa.
1. 95,85 Kilogram Daging Sapi Ikut Ditelusuri
Salah satu fakta baru paling menonjol berasal dari jumlah dan asal bahan baku yang digunakan untuk menu tersebut. Polisi memperoleh informasi bahwa dapur membeli 95,85 kilogram daging sapi untuk kebutuhan produksi makanan yang kemudian dibagikan kepada para penerima.
Berdasarkan laporan IDN Times, daging tersebut berasal dari seorang pemasok di Desa Bumi Nabung, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah. Polisi menelusuri tahapan sejak bahan diterima dapur hingga akhirnya berubah menjadi menu yang dibagikan kepada siswa.
Temuan itu sekaligus memperjelas bahwa bahan yang sedang ditelusuri adalah daging sapi, meskipun penyebutan berbeda sempat beredar dalam sejumlah informasi awal. Dalam kepentingan penyelidikan, asal pemasok menjadi satu bagian dari rantai yang harus diperiksa bersama seluruh proses berikutnya.
Menu yang berkaitan dengan kasus tersebut diketahui terdiri atas nasi putih, semur daging lada hitam, tempe crispy, tumis labu siam dan wortel, serta buah naga. Berdasarkan pemeriksaan polisi, makanan itu dibagikan kepada penerima manfaat pada Rabu, 12 Agustus 2026.
2. Daging Datang Sudah Dipotong Per Porsi
Detail lain yang menarik perhatian adalah kondisi daging ketika memasuki dapur SPPG Sindang Sari. Bahan tersebut disebut tiba sekitar pukul 20.23 WIB dalam keadaan sudah dipotong sesuai kebutuhan porsi sebelum masuk ke tahap pencucian dan pengolahan.
Daging kemudian menjalani pencucian hingga tiga kali dengan estimasi proses sekitar 60 menit sebelum diungkep dan dimasak. Informasi tersebut menjadi salah satu titik yang kini diperiksa polisi untuk mencari kemungkinan kapan benda asing masuk ke dalam makanan.
Polisi belum menyatakan apakah benda tersebut sudah berada di dalam daging sebelum bahan diterima dapur atau masuk pada tahapan setelahnya. Karena itu, seluruh alur mulai dari supplier hingga pengolahan harus diperiksa tanpa mendahului hasil penyelidikan.
AKP Ivan menjelaskan penyidik ingin melihat proses sejak daging diterima, dibersihkan, hingga akhirnya dimasak. Tujuannya adalah menemukan titik yang memungkinkan benda asing tersebut masuk dan memastikan setiap informasi sesuai dengan bukti yang diperoleh di lapangan.
3. CCTV Dapur Ikut Diperiksa
Penelusuran kasus sekarang juga bergerak ke rekaman kamera pengawas di lingkungan dapur SPPG. Pemeriksaan CCTV dapat membantu mengetahui aktivitas yang berlangsung ketika bahan baku datang hingga proses pengolahan makanan sebelum dikirim kepada sekolah.
Mitra MBG Sindang Sari, Daus Leo Puspitasari, mengatakan pihaknya sedang memeriksa CCTV sambil berkomunikasi dengan pemasok daging. Supplier disebut menyatakan bahan baku yang dikirim berada dalam keadaan baik, tetapi klaim tersebut masih menjadi bagian dari informasi yang perlu diverifikasi.
Rekaman kamera menjadi penting karena penyelidikan dilakukan beberapa waktu setelah makanan diproduksi dan dikonsumsi. Dengan dokumentasi tersebut, petugas dapat memperoleh gambaran lebih rinci mengenai proses penerimaan, penanganan bahan, hingga situasi di lingkungan dapur pada saat produksi.
Namun keberadaan CCTV tidak otomatis menjawab asal benda diduga peluru dalam daging MBG, terlebih jika objek sudah berada di dalam bahan sebelum memasuki dapur. Hasil pemeriksaan tetap harus digabungkan dengan keterangan pekerja, supplier, sekolah, ahli gizi dan bukti fisik.
4. Dinas Kesehatan Akan Dilibatkan
Polisi juga berencana menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Utara dalam pemeriksaan benda yang ditemukan pada potongan daging. Langkah itu diperlukan untuk memperoleh informasi tambahan mengenai karakter benda asing sebelum kesimpulan mengenai asal-usulnya diumumkan kepada publik.
Dilansir Lampung Geh, polisi menegaskan tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan dan akan meminta keterangan seluruh pihak yang berkaitan dengan proses penyediaan makanan. Setiap informasi kemudian akan dicocokkan dengan fakta yang ditemukan selama pemeriksaan lapangan.
Sikap tersebut juga menjadi alasan media sebaiknya tetap menggunakan istilah “benda diduga peluru” atau “benda menyerupai peluru senapan angin”. Menyebutnya sebagai peluru secara pasti sebelum pemeriksaan selesai berpotensi mendahului temuan resmi pihak berwenang.
5. Dapur SPPG Disuspend, Layani 1.970 Penerima
Kasus ini juga berdampak langsung pada operasional dapur SPPG Sindang Sari setelah Badan Gizi Nasional mengambil tindakan penghentian sementara. Suspend diberlakukan sejak Rabu, 26 Agustus 2026, ketika penyelidikan mengenai asal benda tersebut masih berlangsung.
Dapur tersebut ternyata mempunyai cakupan pelayanan cukup besar karena melayani 1.970 penerima manfaat yang tersebar di 13 sekolah dan 11 posyandu. Angka tersebut membuat pemeriksaan standar pengolahan makanan menjadi relevan bukan hanya bagi satu siswa atau satu sekolah.
Sementara itu, Detik sebelumnya mengutip Kepala Bagian Tata Usaha KPPG Lampung Fitra Alfarisi yang memastikan dapur telah disuspend sambil menunggu pemeriksaan. Ia menegaskan pihaknya masih mencari tahu asal benda tersebut dan tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum proses penelusuran selesai.
Penghentian sementara menjadi langkah preventif untuk memastikan penyediaan makanan tidak berjalan seperti biasa sebelum persoalan tersebut diperiksa. Namun hingga perkembangan terakhir dalam bahan yang tersedia, belum ada keterangan resmi mengenai hasil akhir pemeriksaan atau waktu pasti SPPG dapat kembali beroperasi.
6. Siswa Sudah Sempat Menggigit Daging
Aspek paling mengkhawatirkan dari kasus ini tetap berkaitan dengan kondisi ketika benda tersebut ditemukan. Ardi tidak melihat benda asing itu sebelum mulai makan, melainkan baru menyadarinya setelah menggigit daging dan merasakan bagian yang keras.
Kepala sekolah mengatakan siswa kemudian membalik daging dan melihat benda asing tersebut sebelum makanan akhirnya dikeluarkan dari mulut. Ida mengaku khawatir membayangkan kemungkinan yang terjadi jika benda itu tidak diketahui dan sampai tertelan oleh siswa.
Kesaksian Ardi menyebut dirinya sudah sempat memakan bagian atas daging sebelum menemukan benda yang tertanam pada bagian lainnya. Setelah melihat benda keras tersebut, ia memutuskan tidak melanjutkan makan dan temuan kemudian diketahui guru.
Deretan fakta baru tersebut membuat kasus benda diduga peluru dalam daging MBG kini berpusat pada satu pertanyaan besar, yakni dari mana sebenarnya benda itu berasal. Jawabannya belum ditemukan meskipun perjalanan daging dari supplier hingga dapur mulai direkonstruksi polisi.
Supplier menyatakan bahan yang dikirim dalam keadaan baik, sementara dapur menyebut daging sudah melalui beberapa kali pencucian sebelum diolah. Kedua keterangan tersebut belum dapat dijadikan dasar kesimpulan karena penyidik masih harus memeriksa bukti, CCTV dan keterangan pihak-pihak lainnya.
Polisi juga belum menentukan apakah benda asing sudah berada di dalam daging sebelum sampai ke dapur atau masuk dalam tahapan berikutnya. Karena itu, dugaan mengenai kelalaian maupun siapa yang bertanggung jawab masih harus menunggu hasil penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perkembangan paling menentukan selanjutnya kemungkinan berasal dari hasil pemeriksaan benda, analisis rekaman CCTV serta penelusuran rantai pasok 95,85 kilogram daging sapi. Sampai hasil tersebut diumumkan, kasus ini tetap berada dalam tahap penyelidikan dan asal benda asing masih menjadi misteri.