Rafael Leao akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada AC Milan setelah tujuh tahun menjadi salah satu wajah utama Rossoneri. Winger Portugal itu meninggalkan Italia menuju Turki setelah Milan mencapai kesepakatan transfer dengan Galatasaray.
Kesepakatan tersebut dilaporkan bernilai sekitar 43-45 juta euro, ditambah bonus 2 juta euro serta klausul yang membuat Milan memperoleh 20-25 persen dari nilai penjualan berikutnya. Galatasaray juga disebut menyiapkan kontrak dengan bayaran sekitar 12 juta euro per musim untuk Rafael Leao.
Kepergian Rafael Leao berlangsung emosional karena pemain berusia 27 tahun itu sebenarnya berharap mendapat kesempatan berpamitan secara terbuka kepada pendukung Milan di San Siro. Rencana tersebut tidak terwujud sehingga perpisahannya dengan klub dan rekan-rekan setim berlangsung secara lebih pribadi.
Football Italia, Sabtu (29/08/2026) melaporkan Leao semula diperkirakan hadir ketika Milan mengalahkan Venezia 2-0 pada pertandingan Serie A di San Siro. Ia disebut berpeluang menyapa publik Milan untuk terakhir kali, tetapi momen tersebut akhirnya tidak pernah terjadi.
“Ini adalah momen yang sulit,” kata Rafael Leao kepada Sky Sport Italia, sebagaimana dilansir Football Italia. Ia mengaku telah berpamitan kepada para pemain Milan yang selama tujuh tahun terakhir menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Leao mengatakan Milan merupakan klub yang membantunya tumbuh dan memahami tuntutan bermain di level tertinggi. Pengalaman membela klub sebesar Rossoneri membuat dirinya berkembang bukan hanya sebagai pesepak bola, tetapi juga sebagai pemain yang terbiasa menghadapi tekanan besar.
Rafael Leao Ingin Perpisahan Berbeda dengan Milan
Satu hal yang disesalkan Rafael Leao adalah tidak bisa memberikan salam terakhir di lapangan di depan tifosi Milan. Ia menginginkan kesempatan bertemu langsung dengan para pendukung yang tetap memberikan dukungan ketika kariernya mengalami periode sulit.
“Saya lebih memilih perpisahan yang berbeda, mengucapkan selamat tinggal sekali lagi di lapangan di depan para penggemar,” ujar Leao. Ia menegaskan dukungan tifosi memiliki arti besar, terutama ketika dirinya mengalami fase yang tidak berjalan sesuai harapan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa transfer ke Galatasaray bukan akhir hubungan emosional Rafael Leao dengan Milan. Pemain internasional Portugal itu bahkan menegaskan rasa cintanya kepada Rossoneri tidak akan hilang meskipun dirinya tidak lagi mengenakan kostum merah-hitam.
“Ini bukan kisah cinta yang berakhir, karena cinta yang saya miliki untuk Milan tidak akan pernah berakhir,” katanya. Leao mengatakan dirinya akan terus mengikuti perkembangan Milan dari kejauhan setelah memulai babak baru dalam kariernya di Istanbul.
Ia juga yakin namanya telah menjadi bagian dari sejarah klub melalui kontribusi selama tujuh musim di San Siro. Rafael Leao memilih membawa seluruh pengalaman tersebut sebagai kenangan, sekaligus mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantunya sejak pertama kali datang.
Momen perpisahan tersebut ternyata sulit dilewati tanpa emosi karena Leao mengakui dirinya menangis menjelang keberangkatan. “Saya banyak menangis, tentu saja, harus ada emosi pada momen seperti ini,” ujar mantan pemain Lille tersebut.
Scudetto Jadi Kenangan Terbesar Rafael Leao
Ketika ditanya mengenai momen paling membahagiakan selama menjadi pemain Milan, Rafael Leao langsung menunjuk keberhasilan meraih trofi. Menurutnya, gelar yang diperoleh bersama sebuah klub akan menjadi kenangan yang terus dibawa bahkan setelah seorang pemain pergi.
Leao memenangkan dua trofi utama selama memperkuat Rossoneri, yakni Scudetto Serie A dan Supercoppa Italiana. Ia juga pernah menerima penghargaan Pemain Terbaik Serie A setelah memainkan peran besar dalam keberhasilan Milan menjadi juara liga.
Keberhasilan tersebut menjelaskan mengapa Rafael Leao merasa dirinya meninggalkan warisan di San Siro meski akhir perjalanan berlangsung tanpa seremoni besar. Selama periode terbaiknya, kecepatan, kemampuan menggiring bola, dan kreativitas Leao menjadi salah satu senjata utama lini depan Milan.
Keputusan meninggalkan Italia juga datang setelah terdapat ketertarikan dari Aston Villa, tetapi proposal klub Liga Inggris itu tidak memenuhi keinginan Milan maupun sang pemain. Galatasaray pada akhirnya bergerak lebih serius dan berhasil mencapai kesepakatan yang membuka jalan kepindahannya ke Turki.
Direktur Galatasaray bahkan datang langsung ke Bandara Linate, Milan, menggunakan pesawat pribadi untuk membawa Rafael Leao menuju Turki. Abdullah Kavukcu, wakil presiden sekaligus figur penting dalam aktivitas transfer klub, terlihat berada di Milan ketika proses keberangkatan dilakukan.
Leao tidak menjelaskan secara detail apakah dirinya sebenarnya berharap bertahan lebih lama atau keputusan hengkang lebih banyak didorong oleh klub. Ia hanya menggambarkan situasinya sebagai fase ketika seorang pemain harus mengambil keputusan dan menerima bahwa sebuah era akhirnya selesai.
Menariknya, Rafael Leao tetap memberikan penilaian positif terhadap pelatih baru Milan, Ruben Amorim. Walaupun keduanya tidak memiliki banyak waktu bekerja bersama, Leao percaya kompatriotnya tersebut mempunyai kapasitas membawa Rossoneri kembali bersaing memperebutkan trofi.
Menurut Leao, Amorim menerapkan jenis sepak bola yang sebenarnya sesuai dengan karakter permainan yang ia sukai. Namun situasi transfer membuat keduanya tidak mendapatkan kesempatan membangun kerja sama lebih panjang pada era baru Milan.
Milan Menang Saat Rafael Leao Bersiap Pergi
Milan sendiri menutup malam perpisahan Rafael Leao dengan kemenangan 2-0 atas Venezia di San Siro. Hasil tersebut mempertahankan catatan kemenangan 100 persen Rossoneri pada awal musim setelah sebelumnya mengalahkan Torino 2-1.
Goncalo Ramos menjadi salah satu protagonis dengan mencetak gol pertamanya bersama Milan, sementara gol berikutnya lahir setelah peluang Ardon Jashari berbelok mengenai Redouane Halhal. Alexis Saelemaekers memainkan peran besar dengan memberi kreativitas setelah masuk dari bangku cadangan.
Saelemaekers mengirim umpan yang membebaskan Ramos sebelum penyerang Portugal tersebut menyelesaikannya menjadi gol. Ia kemudian kembali mengirim umpan kepada Jashari, sebelum bola masuk setelah mengenai Halhal dan menghasilkan gol kedua Milan.
Ruben Amorim tetap melihat banyak kekurangan walaupun timnya menang dan mencatat clean sheet pertama dalam pertandingan kompetitif di bawah kepemimpinannya. Pelatih asal Portugal tersebut secara khusus menyoroti pertahanan terhadap umpan silang serta positioning pemain ketika Milan kehilangan penguasaan bola.
Amorim menilai para bek terkadang hanya menyaksikan permainan ketika tim menyerang, padahal mereka harus sudah memikirkan kemungkinan transisi lawan. Sistem man-to-man dan keinginan mendorong banyak pemain ke depan membuat Milan meninggalkan ruang besar yang masih harus diperbaiki.
Di sisi lain, Goncalo Ramos memperoleh pujian besar setelah akhirnya membuka rekening golnya untuk Rossoneri. Milan dikabarkan melakukan investasi besar untuk merekrutnya dari Paris Saint-Germain, dengan nilai transfer yang bersama bonus berpotensi mencapai sekitar 80 juta euro.
Amorim menilai Ramos menawarkan lebih banyak dibanding kemampuan mencetak gol karena pergerakan, kerja keras, dan kontribusinya dalam membangun serangan memberi dimensi tambahan. Sang pelatih bahkan menggambarkan aktivitas Ramos seolah Milan mempunyai dua penyerang yang secara bersamaan menyerang garis pertahanan lawan.
Ramos sendiri mengatakan Milan sedang membangun DNA baru yang memadukan ambisi memenangkan pertandingan dengan keinginan menikmati permainan. Ia merasa cepat beradaptasi karena mendapatkan bantuan dari rekan-rekannya dan memahami ide permainan yang ingin diterapkan Ruben Amorim.
Yunus Musah juga melihat perubahan tersebut setelah kembali mendapatkan kepercayaan di bawah Amorim. Gelandang Amerika Serikat itu menilai Milan sekarang mempunyai gagasan permainan yang semakin jelas, setelah sebelumnya melewati beberapa periode berbeda bersama Stefano Pioli, Paulo Fonseca, dan Sergio Conceicao.
Namun kemenangan tersebut tetap dibayangi berakhirnya perjalanan Rafael Leao di Milan, seorang pemain yang tumbuh bersama klub dan menjadi simbol generasi peraih Scudetto. Tujuh tahun perjalanan itu kini selesai, sementara Galatasaray menjadi tujuan berikutnya dalam karier sang winger.
Bagi Rafael Leao, kepindahan tersebut bukan bentuk pemutusan hubungan dengan Milan, melainkan permulaan fase baru setelah sebuah era berakhir. Pesannya kepada Rossoneri pun sederhana: ia berharap Milan tetap berada di level tertinggi, terus memenangkan pertandingan, dan memberikan kebahagiaan kepada pendukungnya.